Kd 3 : Membuat link dan frame menggunakan HTML
Dalam suatu web kita pasti sering menjumpai link, baik berupa link tulisan maupun link gambar. Link sendiri berguna untuk menghubungkan satu file dengan file yang lain, di html biasanya penggunaan tag <link> diikuti dengan atribute href, sehingga penulisannya seperti berikut ini :
<link href=”namafile_yg_dituju.tipe”> tulisan yang akan ditampilkan </link>
Sript diatas untuk menampilkan link dalam bentuk tulisan, sedangkan jika ingin membuat link dalam bentuk gambar, scriptnya seperti dibawah ini :
<link href=”namafile_yg_dituju.tipe”> <img src=”namafilegambar.tipe”> </link>
Yang perlu diingat jika ingin membuat link gambar adalah letak gambar yang akan ditampilkan sebagai link. Dimanapun letak gambar asal penulisan path-nya benar maka gambarnya akan muncul, tapi jika kita ingin memindah file html tersebut ke komputer lain, dan kita lupa ikut memindahkan gambarnya maka gambar tersebut tidak akan tampil. Untuk mengantisipasi hal itu, akan lebih baik bila semua file gambar yang digunakan dalam web kita dikumpulkan dalam satu folder, yang kemudian folder gambar tersebut disimpan dalam folder yang berisi file html kita.
A. Membuat Link
1. Link tulisan dan link gambar
Contoh penggunaan link dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.01 Transitional//EN">
<html>
<head>
<title>Ayoo coba link !!</title>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=iso-8859-1">
</head>
<body>
<a href="link2.html">Link 1</a>
</body>
</html>
Gambar 3.1. Link pada tulisan (halaman 1)
<!DOCTYPE HTML PUBLIC “-//W3C//DTD HTML 4.01 Transitional//EN”>
<html>
<head>
<title>Link Gambar</title>
<meta http-equiv=”Content-Type” content=”text/html; charset=iso-8859-1”>
</head>
<body>
<a href=”link1.html”><img src=”images/94.gif”></a>
</body>
</html>
Gambar 3.2. Link pada gambar (halaman 2)
Maksud dari kedua gambar diatas adalah me-link halaman 1 dengan halaman 2. Jadi jika kita mengklik link tulisan pada halaman 1, akan ditampilkan halaman 2 yang berisi gambar, dan jika gambar pada halaman 2 di klik, maka akan kembali lagi ke halaman 1.
Gambar yang di-link ditepinya akan muncul garis, untuk menghilangkannya dapat dilakukan dengan pemberian atribut border=”0” pada tag <img> nya.
2. Link tulisan di atas gambar
Salah satu cara sederhana untuk memodifikasi link, dapat dilakukan dengan memberikan background gambar dibelakang tulisan yang di link. Contohnya seperti berikut :
<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.01 Transitional//EN">
<html>
<head>
<title>Link Gambar</title>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=iso-8859-1">
</head>
<body>
<table background="images/94.gif" width="70" height="45">
<tr align="center" valign="bottom">
<td height="39"><a href="link1.html"><font color="#000000"><b >Link 1</b></font></a> </td>
</tr>
</table>
</body>
</html>
Gambar 3.3. Background gambar pada link tulisan
Gambar diatas dibuat dengan memanfaatkan tabel, sehingga gambarnya bisa dijadikan background tabel dan tinggal ditambahkan tulisan yang akan di link pada kolomnya.
Banyak hal lain yang bisa di buat sesuai keinginan kita, hanya dibutuhkan untuk meningkatkan kekreatifitasan kita untuk mengembangkannya. Ayo lebih kreatif..!!!
B. Membuat Frame
Mengolah tampilan web menjadi bagus dan enak dipandang memang diperlukan cara dan ketrampilan khusus, apalagi untuk mengatur kombinasi gambar, warna dsb. Dan salah satu cara untuk membuat tampilan web menarik adalah dengan mengatur pembagian halaman web. Pembagian halaman web dapat dilakukan dengan menggunakan tabel atau juga frame, namun untuk kesempatan kali ini, yang dibahas adalah pembagian halaman web menggunakan frame. Contohnya seperti berikut ini :
<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.01 Frameset//EN" "http://www.w3.org/TR/html4/frameset.dtd">
<html>
<head>
<title>Untitled Document</title>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=iso-8859-1">
</head>
<frameset rows="*" cols="80,*" frameborder="NO" border="1" framespacing="0">
<frame src="UntitledFrame-8" name="leftFrame" scrolling="yes" noresize>
<frameset rows="80,*" frameborder="yes" border="0" framespacing="0">
<frame src="UntitledFrame-9" name="topFrame" scrolling="yes" noresize>
<frame src="UntitledFrame-9" name="mainFrame" scrolling="yes" noresize>
</frameset>
</frameset>
<noframes><body>
</body></noframes>
</html>
Gambar 3.4. Tampilan awal frame
Dari script di atas dapat dilihat jika tampilan yang akan di buat terdiri dari 1 baris dengan 2 kolom, yang dijelaskan di tag <frameset> dengan atribut rows=”*” adalah untuk menentukan jumlah baris, dan cols=”80,*“ untuk menentukan jumlah kolom.
Tanda * pada atribut rows dan cols berfungsi sebagai ukuran lebar frame yang akan disesuaikan secara otomatis mengikuti browser yang digunakan untuk membuka halaman tersebut. Namun tanda * tersebut bisa diganti dengan nilai persentase atau nilai tanpa persentase sesuai kebutuhan.
Untuk mengubah jumlah kolom dan jumlah barisnya dapat dilakukan pada banyaknya ukuran kolom atau baris, misalnya gambaran frame yang akan dibuat :
Frame 1 Frame 2
Frame 3 Frame 4
Maka pada : <frameset rows=”80,*” cols=”120,*”>
Sehingga dengan menggunakan frame, kita bisa mengumpulkan tampilan dari beberapa file dalam satu halaman web. Caranya, pada atribut src=”namafile.tipe” di tag <frame> kita isi dengan nama file html yang akan ditampilkan pada frame tersebut. Misalnya akan dibuat tampilan frame seperti dibawah ini, (dengan nama file : frame1.html) :
Gambar 3.5. Tampilan frame yang masih kosong
file untuk pengisi frame header bernama header.html dengan tampilan :
Gambar 3.6. Tampilan file header.html
untuk file pengisi frame menu utama bernama isi.html dengan tampilan :
Gambar 3.7. Tampilan file isi.html
Sehingga pada script di file frame1.html dapat diketik seperti berikut :
<frameset rows="108,*" frameborder="NO" border="0" framespacing="0">
<frame src="header.html" name="topFrame" scrolling="no" noresize >
<frame src="isi.html" name="mainFrame">
</frameset>
Dan hasilnya pada saat file frame1.html dijalankan akan tampak tampilan seperti berikut :
Gambar 3.8. Tampilan web dengan menggunakan frame
Tampilan diatas hanya contoh yang sederhana saja. Untuk ke depannya bisa dikembangkan sesuai imajinasi dan kreatifitas kalian. Selamat Mencoba !!
Berikut ini pembagian frame yang bisa dijadikan contoh :
TUGAS :
Buat 1 tampilan halaman web menggunakan frame (contohnya seperti gambar 3.8), dengan ketentuan :
- halaman web minimal dibagi menjadi 2 frame
- ukuran frame bebas
- isi web juga bebas
- identitas di dalam halaman web
- waktu 2 minggu.
Latihan :
Lengkapi fungsi-fungsi atribut berikut ini :
Tag Atribut Fungsi Cara penulisan
<frameset>..</frameset> Border
Bordercolor
Class
Cols
Frameborder
Framespacing
Rows
<frame>..</frame > Bordercolor
Class
Frameborder
Marginheight
MarginWidth
Noresize
Scrolling
Src
Jumat, 27 Februari 2009
tW!lI9hT
Isabella Swan_
seorang cewek yang datang ke ForkZ
dan menemukan Edward Cullen
dengan misteriusnya
yang mempesona_
seorang cewek yang datang ke ForkZ
dan menemukan Edward Cullen
dengan misteriusnya
yang mempesona_
Rabu, 25 Februari 2009
Selasa, 24 Februari 2009
d'H0UR9L4S5

Semua orang pasti mengetahui jam. Karena semua orang hidup memerlukan jam untuk menunjukkan waktu. Sekarang jam yang ada sudah berupa digital atau analog. Namun hourglass atau jam pasir mungkin sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Namun dengan sentuhan teknologi, jam ini bisa tampil lebih canggih dan trendi.
Kalau biasanya kita melihat hourglass berisi pasir (makanya di Indonesia lebih umum disebut jam pasir), kali ini desainer asal Korea, Young Bok Kim menciptakan hourglass yang berisi cahaya LED (Light Emitting Diode). Metodenya sama saja dengan jam pasir biasa, jika hourglass ini dijungkirbalikkan, maka bukannya pasir, melainkan cahaya dari LED yang akan turun mengalir ke sisi tabung hourglass yang berada di bawah.Tak hanya bagus sebagai alat pengukur waktu saat sedang memasak di kantor, LED Hourglass ini juga cantik untuk digunakan sebagai pajangan di ruang tamu atau sebagai lampu tidur di kamar.
Kalau biasanya kita melihat hourglass berisi pasir (makanya di Indonesia lebih umum disebut jam pasir), kali ini desainer asal Korea, Young Bok Kim menciptakan hourglass yang berisi cahaya LED (Light Emitting Diode). Metodenya sama saja dengan jam pasir biasa, jika hourglass ini dijungkirbalikkan, maka bukannya pasir, melainkan cahaya dari LED yang akan turun mengalir ke sisi tabung hourglass yang berada di bawah.Tak hanya bagus sebagai alat pengukur waktu saat sedang memasak di kantor, LED Hourglass ini juga cantik untuk digunakan sebagai pajangan di ruang tamu atau sebagai lampu tidur di kamar.
DARI SEBATANG KARBON . . .

Nanoteknologi adalah teknologi masa depan. Pernyataan ini bukanlah omong kosong belaka karena material nano memang menunjukkan sifat-sifat luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup manusia. Salah satu material nano paling unik dan memiliki sifat luar biasa adalah CNT (kependekan dari carbon nanotube).
CNT merupakan sebuah rantai atom karbon yang berikatan secara heksagonal berbentuk tabung silinder dengan diameter 1 hingga 2 nanometer (1 nano = sepersemilyar bagian). Panjangnya dapat mencapai beberapa puluh mikrometer hingga sentimeter dengan ujung memiliki tutup seperti pil obat (Hill dan Petrucci, 2002). Sejak pertama kali ditemukan di lab NEC, Jepang (Iijima, 1991), telah ada beragam akitivitas penelitian untuk mengungkap sifat listrik CNT dan potensi aplikasinya, terutama dalam dunia elektronika.
Berdasarkan jumlah dindingnya, CNT secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu CNT berdinding tunggal (single-walled CNT atau SWNT) dan CNT berdinding banyak (multi-walled CNT atau MWNT). Sifat-sifat CNT yang luar biasa itu kemudian dapat diturunkan secara spesifik dengan menganalisis lembaran penyusun dinding tersebut, yaitu graphene (grafit berbentuk lembaran) yang digulung menjadi silinder.
Ada banyak cara untuk menggulung lembaran graphene menjadi sebuah CNT, persis seperti ketika kita ingin menggulung selembar kertas. Arah dari penggulungan lembaran tersebut akan menentukan arah ikatan heksagonal pada CNT, yang kemudian sangat menentukan sifat listrik CNT dengan geometri tersebut. Untuk mengkarakterisasi sebuah CNT dengan geometri tertentu, diberikan parameter bilangan bulat (n, m), yang disebut dengan vektor chiral. Panjang dari vektor chiral ini akan menjadi keliling CNT, yaitu bagian panah vektor harus bertemu dengan bagian ekornya ketika diputar menjadi lingkaran.
Berdasarkan teori zat padat, para fisikawan berhasil memperoleh fakta bahwa CNT memiliki kelakuan listrik yang “ganda”, yaitu sebagai logam atau semikonduktor. Jika (n–m)/3 merupakan bilangan bulat, maka CNT bersifat logam, sedangkan jika (n–m)/3 bukan bilangan bulat, maka CNT bersifat semikonduktor. Menarik sekali karena ternyata kemampuan hantaran listrik CNT, apakah sebagai logam atau semikonduktor, hanya bergantung pada geometrinya.
CNT merupakan sebuah rantai atom karbon yang berikatan secara heksagonal berbentuk tabung silinder dengan diameter 1 hingga 2 nanometer (1 nano = sepersemilyar bagian). Panjangnya dapat mencapai beberapa puluh mikrometer hingga sentimeter dengan ujung memiliki tutup seperti pil obat (Hill dan Petrucci, 2002). Sejak pertama kali ditemukan di lab NEC, Jepang (Iijima, 1991), telah ada beragam akitivitas penelitian untuk mengungkap sifat listrik CNT dan potensi aplikasinya, terutama dalam dunia elektronika.
Berdasarkan jumlah dindingnya, CNT secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu CNT berdinding tunggal (single-walled CNT atau SWNT) dan CNT berdinding banyak (multi-walled CNT atau MWNT). Sifat-sifat CNT yang luar biasa itu kemudian dapat diturunkan secara spesifik dengan menganalisis lembaran penyusun dinding tersebut, yaitu graphene (grafit berbentuk lembaran) yang digulung menjadi silinder.
Ada banyak cara untuk menggulung lembaran graphene menjadi sebuah CNT, persis seperti ketika kita ingin menggulung selembar kertas. Arah dari penggulungan lembaran tersebut akan menentukan arah ikatan heksagonal pada CNT, yang kemudian sangat menentukan sifat listrik CNT dengan geometri tersebut. Untuk mengkarakterisasi sebuah CNT dengan geometri tertentu, diberikan parameter bilangan bulat (n, m), yang disebut dengan vektor chiral. Panjang dari vektor chiral ini akan menjadi keliling CNT, yaitu bagian panah vektor harus bertemu dengan bagian ekornya ketika diputar menjadi lingkaran.
Berdasarkan teori zat padat, para fisikawan berhasil memperoleh fakta bahwa CNT memiliki kelakuan listrik yang “ganda”, yaitu sebagai logam atau semikonduktor. Jika (n–m)/3 merupakan bilangan bulat, maka CNT bersifat logam, sedangkan jika (n–m)/3 bukan bilangan bulat, maka CNT bersifat semikonduktor. Menarik sekali karena ternyata kemampuan hantaran listrik CNT, apakah sebagai logam atau semikonduktor, hanya bergantung pada geometrinya.
Keunikan sifat listrik CNT pada dasarnya merupakan ‘turunan’ sifat dari struktur elektronik yang tidak biasa dari graphene dengan ikatan karbon sp2. Graphene memiliki keadaan yang mampu menghantarkan listrik dengan tingkat energi yang ada di perbatasan struktur elektronik. Keadaan ini biasa disebut zero bandgap semiconductor atau semimetal karena bersifat logam (konduktor) pada arah tertentu dan semikonduktor pada arah lainnya.
Pada CNT, proses penggulungan menyebabkan momentum elektron jadi terkuantisasi dan mereduksi jumlah keadaan yang tersedia dibanding struktur dua dimensinya (graphene). Hasil kuantisasi ini berujung pada bentuk CNT satu dimensi yang dapat bersifat sebagai logam saja atau semikonduktor saja, tergantung vektor chiral-nya. Prediksi teoretik ini telah terbukti kebenarannya melalui sejumlah eksperimen. Salah satu metode pengukuran langsung adalah dengan menggunakan STM (scanning tunneling microscopy) untuk mendapatkan gambaran struktur atom CNT dan menyelidiki struktur elektroniknya (Odom dkk, 1998).
CNT dapat dibuat dengan proses penumbuhan melalui kombinasi sumber karbon dengan material katalisator seperti besi atau kobalt pada temperatur tertentu. Sumber karbon di sini dapat beragam bentuknya, misalnya, hidrokarbon, grafit, dan karbon monoksida. CNT akan ‘tumbuh menurut arah tertentu setelah katalis bercampur dengan sumber karbon. Penumbuhan yang terus menerus akan menambah panjang CNT hingga dapat mencapai beberapa ratus mikron (Franklin dan Dai, 2000).
Pengaturan kondisi yang tepat untuk proses penumbuhan dapat dilakukan dengan cara yang beragam. Dari sudut pandang fabrikasi perangkat elektronik, teknik-teknik penumbuhan itu dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah penumbuhan CNT dengan teknik sintesis material besar yang dideposisi pada substrat untuk membuat perangkat elektronik tertentu. Metode yang umum untuk kategori ini adalah arc synthesis (Iijima, 1991) dan laser ablation (Thess, 1996).
Kategori kedua adalah penumbuhan CNT langsung pada wafer atau substrat (Kong dkk, 1998). Caranya biasa dilakukan dengan teknik Chemical Vapour Deposition, atau disingkat CVD. Metode CVD ini pun ada beragam lagi macamnya, misalnya thermal CVD dan plasma CVD. Material katalis ditempatkan pada permukaan wafer dalam tungku dengan temperatur standar 700 s.d. 1000 oC yang dilalui aliran sumber karbon seperti gas metana. Dengan teknik ini dapat dihasilkan beberapa perangkat elektronik secara langsung, misalnya transistor efek medan (field effect transistor). Selain itu, beberapa penelitian sudah berhasil memproduksi memori data berbasis CNT, sensor, emisi elektron, dan banyak aplikasi elektronik lainnya.
Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa CNT memang memiliki sifat-sifat yang luar biasa. Konduktivitas dan rapat arus CNT yang bersifat logam sama dengan dan bahkan melebihi logam terbaik yang pernah ada, demikian pula mobilitas CNT semikonduktor apabila dibandingkan dengan semikonduktor terbaik yang ada di muka bumi. Hal ini membuat CNT menjadi kandidat yang sangat menjanjikan sebagai material elektronik di masa depan. Peluang pun muncul untuk mengintegrasikan CNT dengan sistem-sistem lain seperti sistem kimiawi, mekanik, maupun biologis, misalnya sebagai sensor biomolekul atau perangkat elektromekanik.
Meskipun prototipe aplikasi CNT tersebut berhasil dibuat, tetapi perkembangan realisasinya dalam jumlah besar bisa dikatakan sangat lamban. Masalah utamanya berada pada tahapan fabrikasi. Sebagai contoh, diameter silinder (CNT) pada proses sintesis memang sudah dapat dikontrol dengan baik, tapi tidak dengan vektor chiral-nya. Akibatnya, CNT-CNT yang dihasilkan akan bercampur antara yang bersifat logam dengan semikonduktor dan keadaan ini tentu tidak baik untuk aplikasi selanjutnya.
Pada proses CVD, posisi dari tempat tumbuhnya CNT dapat dikontrol dengan membuat pola bahan katalis, tetapi jumlah CNT dan orientasinya relatif terhadap substrat masih belum terdefinisikan. Selain itu, temperatur yang terlalu tinggi untuk CVD konvensional (hingga 1000 oC) membuat proses penumbuhan CNT tidak cocok dengan proses standar silikon yang masih menjadi bahan utama perangkat elektronik saat ini.
Sebagai pendekatan alternatif, yaitu deposisi CNT pada substrat setelah fase penumbuhan, dapat menghindarkan permasalahan temperatur tinggi, tetapi justru muncul masalah baru pada penentuan posisi penumbuhan dan juga geometri CNT. Beberapa usaha kembali dicoba untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan menggunakan medan listrik untuk memandu CNT pada posisi tertentu selama penumbuhan dan deposisi (Zhang dkk, 2001), dengan perlakuan modifikasi permukaan (Liu dkk, 1999), atau seperti yang dilakukan di Fisika ITB dengan CVD plasma berfrekuensi tinggi (Sukirno dkk, 2006).
Hasilnya, mereka cukup sukses mengatasi masalah tersebut, tetapi masih belum dapat memproduksi dalam jumlah besar. Industri pembuat CNT yang cukup terkenal, yaitu Carbon Nanotechnologies Inc yang didirikan oleh peraih nobel kimia 1985 Rick Smalley, hanya mampu memproduksi CNT sekitar lima kilogram per hari sehingga harga jualnya masih tinggi. Industri lainnya, Showa Denko Jepang, hanya mampu memproduksi sekitar empat kilogram per hari.
Dengan demikian, satu-satunya masalah yang menghambat CNT untuk segera diterapkan secara massal dalam dunia elektronik adalah proses pembuatannya. Meskipun sudah banyak “mimpi” dan juga teori untuk membuat sebuah rangkaian elektronika yang “murni” CNT, tetapi selama proses fabrikasinya tidak berkembang maka keunggulan CNT hanya dapat terwujud dalam skala laboratorium, bukan untuk kebutuhan sehari-hari secara massal. Namun kita juga harus tetap optimis bahwa dengan perkembangan teknologi yang demikian pesatnya saat ini, mudah-mudahan suatu saat nanti CNT benar-benar dapat direalisasikan penggunaannya secara massal bagi kehidupan manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)






